Berikutpenjelasan Pangersa Abah Anom; April 20, 2022 PGMI SURYALAYA Sukses gelar workshop peningkatan kompetensi guru MI se-Kabupaten Tasikmalaya; April 4, 2022 Jadwal manakib bulan Ramadhan berubah? berikut Edarannya! March 20, 2022 Nilai-nilai sosial dalam Isra Mi’raj; 13 mins ago 2 Tingkat pengajian Kitab. para santri yang belajar pada tingkat ini adalah mereka yang telah khatam A1-Qur’an. Gurunya biasanya modin terpandai di desa itu, atau didatangkan dari luar dengan syarat-syarat tertentu. Guru-guru tersebut diberi gelar Abah Anom. Tempat belajar biasanya di serambi masjid dan mereka umumnya mondok. SyekhAhmad Shohibulwafa Tajul Arifin atau yang kerap disapa dengan panggilan Abah Anom lahir 1 Januari 1915 di Suryalaya, Tasikmalaya. Beliau merupakan anak kelima dari Syekh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad, atau Abah Sepuh, pendiri Pesantren "Suryalaya". Sebuah pesantren tasawuf yang khusus mengajarkan Thariqat Qadiriyyah Naqsabandiyah (TQN). kiaiyang memmiliki pengaruh kuat di Pamekasdan dan bahkandi luar Pamekasan, seperti KHR. As’ad Syamsul arifin, pengasuh Pondok Pesantren As Salafiyah Asy Syafiiyah Vay Tiền Nhanh Chỉ Cần Cmnd Nợ Xấu. Syahdan. Pangersa Abah Anom Syekh Ahmad Shohibul Wafa' Taju l-'Arifin menghadiri undangan memimpin manaqiban di pesantren Ajengan Masduki, Sukabumi. Sementara itu, turut pula hadir santri kinasih Beliau, KH Zainal Abidin asal Cikadu, Pelabuhan Ratu, bersama sahabatnya, Haji Tamim. Pemilik nama yang terakhir ini, kendati rapat bergaul dengan Ajengan Zainal, dan kerap kali membantunya mencetak kitab-kitab kuning yang dikarang, namun keukeuh memeluk Wahabi sebagai landasan imannya. Teramat sering mereka bertukar guyon sembari menyindir perkara bid'ah, khurafat, & takhayul-termasuk meragukan kewalian Pangersa Abah Anom. Singkat cerita. manaqiban pun rampung digelar. Di luar kebiasaan, Pangersa memilih mobil jenis kijang milik H. Tamim, dan minta diantarkan pulang ke, "Negeri Bid'ah, Suryalaya," demikian ucap Pangersa. Mengetahui itu, pemilik mobil tak bisa berbuat apa-apa. Ajengan Zainal pun turut bersama Pangersa. Duduk di jok bagian tengah. Selama mobil melaju, Pangersa hanya tertidur pulas. Ketika melewati wilayah Malangbong, terjadilah peristiwa di luar nalar. H. Tamim malah terlelap di belakang kemudi. Bahkan kepalanya sampai terantuk-antuk membentur stir mobil. Demi melihat itu, para penumpang dalam mobil itu pun panik, kecuali Ajengan Zainal-yang menyadari sebuah karomah sedang terjadi. Sepanjang 30an km lebih, mobil melaju menuju Tasikmalaya. Dengan kondisi jalan meliuk, menanjak, dan menurun. Setiba di depan lokasi pesantren Suryalaya, Pangersa langsung terjaga. Lantas menepuk bahu H. Tamim yang seketika kebingungan sangat. Kini ia benar-benar sudah berada di negeri bid'ah yang sering ia olok di hadapan Ajengan Zainal. Setelah H. Tamim siuman dari linglung, seluruh penumpang pun masuk ke areal pesantren. Tak berselang lama dari peristiwa tersebut, H. Tamim minta ditalqin bai'at oleh Pangersa. Hingga wafatnya, ia kemudian menjadi pejuang tangguh santri Tariqat Qadiriyah-Naqsyabandhi di bawah asuhan Pangersa Abah Anom yang mulia. Ren Muhammad, pendiri Khatulistiwamuda yang bergerak pendidikan, sosial budaya, dan spiritualitas; Ketua Bidang Program Yayasan Aku dan Sukarno, serta Direktur Eksekutif di Candra Malik Institut. === Diriwayatkan dari tuturan saksi mata, Deden Ridwan—putra bungsu Ajengan Zainal Abidin ra, yang pada 1983 itu masih bocah berusia kitaran sepuluh tahun. Sejarah profil biodata ponpes Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya Jawa Barat Indonesia adalah salah satu pondok pesantren ponpes tertua di Jawa Barat yang pengasuh/kyai-nya dikenal sebagai mursyid tarikat Qadiriyah Naqsyabandiyah dan didirikan pada 7 Rajab 1323 H atau 5 September 1905 oleh Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad atau Abah Sepuh. DAFTAR ISI 1. Sejarah Ponpes Suryalaya 2. Pengasuh Pesantren Suryalaya 3. Profil Abah Sepuh 4. Profil Abah Anom 5. Pengganti/Penerus Abah Anom SEJARAH PONPES SURYALAYA Pondok Pesantren Suryalaya dirintis oleh Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad atau yang dikenal dengan panggilan Abah Sepuh. Pada tanggal 7 Rajab 1323 H atau 5 September 1905, Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad dapat mendirikan sebuah pesantren walaupun dengan modal awal sebuah mesjid yang terletak di kampung Godebag, desa Tanjung Kerta. Pondok Pesantren Suryalaya itu sendiri diambil dari istilah sunda yaitu Surya = Matahari, Laya = Tempat terbit, jadi Suryalaya secara harfiah mengandung arti tempat matahari terbit. Pada awalnya Syeikh Abdullah bin Nur Muhammad sempat bimbang, akan tetapi guru beliau Syaikh Tholhah bin Talabudin memberikan motivasi dan dorongan juga bimbingan khusus kepadanya, bahkan beliau pernah tinggal beberapa hari sebagai wujud restu dan dukungannya. Pada tahun 1908 atau tiga tahun setelah berdirinya Pondok Pesantren Suryalaya, Abah Sepuh mendapatkan khirqoh legitimasi penguatan sebagai guru mursyid dari Syaikh Tholhah bin Talabudin Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad berpulang ke Rahmattullah pada tahun 1956 di usia yang ke 120 tahun. Kepemimpinan dan kemursyidannya dilimpahkan kepada putranya yang kelima, yaitu KH. Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin yang akbrab dipanggil dengan sebutan Abah Anom. Pada masa awal kepemimpinan Abah Anom juga banyak mengalami kendala yang cukup mengganggu, di antaranya pemberontakan DI/TII. Dari tahun ke tahun Pondok Pesantren Suryalaya semakin berkembang, sesuai dengan tuntutan zaman, maka pada tanggal 11 maret 1961 atas prakarsa H. Sewaka Alm mantan Gubernur Jawa Barat 1947 – 1952 dan mantan Mentri Pertahanan RI Iwa Kusuma Sumantri Alm 1952 – 1953. Dibentuklah Yayasan Serba Bakti Pondok Pesantren Suryalaya. Yayasan ini dibentuk dengan tujuan untuk membantu tugas Abah Anom dalam penyebaran Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah dan dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa. Pada masa kepemimpinan Abah Anom, Pondok Pesantren Suryalaya berperan aktif dalam kegiatan Keagamaan, Sosial, Pendidikan, Pertanian, Kesehatan, Lingkungan Hidup, dan Kenegaraan. Hal ini terbukti dari penghargaan yang diperoleh baik dari presiden, pemerintah pusat dan pemerintah daerah, bahkan dari dunia internasional atas prestasi dan jasa-jasanya. Dengan demikian eksistensi atau keberadaan Pondok Pesantren Suryalaya semakin kuat dan semakin dibutuhkan oleh segenap umat manusia. PENGASUH PONPES SURYALAYA 1. Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad alias Abah Sepuh Pendiri dan pengasuh1905 - 1956. 2. KH. Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin alias Abad Anom 1956- September 2011. 3. PROFIL ABAH SEPUH Syaikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad atau yang biasa di panggil Abah Sepuh, lahir tahun 1836 di kampung Cicalung Kecamatan Tarikolot Kabupaten Sumedang sekarang, Kp Cicalung Desa Tanjungsari Kecamatan Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya dari pasangan Rd Nura Pradja Eyang Upas, yang kemudian bernama Nur Muhammad dengan Ibu Emah. Beliau dibesarkan oleh uwaknya yang dikenal sebagai Kyai Jangkung. Sejak kecil, beliau sudah gemar mengaji/mesantren dan membantu orang tua dan keluarga, serta suka memperhatikan kesejahteraan masyarakat. Setelah menyelesaikan pendidikan agama dalam bidang akidah, fiqih, dan lain-lain di tempat orang tuanya. Di Pesantren Sukamiskin Bandung beliau mendalami fiqih, nahwu, dan sorof. Beliau kemudian mendarmabaktikan ilmunya di tengah-tengah masyarakat dengan mendirikan pengajian di daerahnya dan mendirikan pengajian di daerah Tundagan Tasikmalaya. Beliau kemudian menunaikan ibadah Haji yang pertama. Walaupun Syaikh Abdullah Mubarok telah menjadi pimpinan dan mengasuh sebuah pengajian pada tahun 1890 di Tundagan Tasikmalaya, beliau masih terus belajar dan mendalami ilmu Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah kepada Mama Guru Agung Syaikh Tolhah bin Talabudin di daerah Trusmi dan Kalisapu Cirebon. Setelah sekian lamanya pulang-pergi antara Tasikmalaya-Cirebon untuk memperdalam ilmu tarekat, akhirnya beliau memperoleh kepercayaan dan diangkat menjadi Wakil Talqin. Sekitar tahun 1908 dalam usia 72 tahun, beliau diangkat secara resmi khirqoh sebagai guru dan pemimpin pengamalan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah oleh Syaikh Tolhah. Beliau juga memperoleh bimbingan ilmu tarekat dan bertabaruk kepada Syaikh Kholil Bangkalan Madura dan bahkan memperoleh ijazah khusus Shalawat Bani Hasyim. PROFIL ABAH ANOMKH. A Shohibulwafa Tajul Arifin yang dikenal dengan nama Abah Anom, dilahirkan di Suryalaya tanggal 1 Januari 1915. Beliau adalah putra kelima Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad, pendiri Pondok Pesantren Suryalaya, dari ibu yang bernama Hj Juhriyah. Pada usia delapan tahun Abah Anom masuk Sekolah Dasar Verfolg School di Ciamis antara tahun 1923-1928. Kemudian ia masuk Sekolah Menengah semacan Tsanawiyah di Ciawi Tasikmalaya. Pada tahun 1930 Abah Anom memulai perjalanan menuntut ilmu agama Islam secara lebih khusus. Beliau belajar ilmu fiqih dari seorang Kyai terkenal di Pesantren Cicariang Cianjur, kemudian belajar ilmu fiqih, nahwu, sorof dan balaghah kepada Kyai terkenal di Pesantren Jambudipa Cianjur. Setelah kurang lebih dua tahun di Pesantren Jambudipa, beliau melanjutkan ke Pesantren Gentur, Cianjur yang saat itu diasuh oleh Ajengan Syatibi. Dua tahun kemudian 1935-1937 Abah Anom melanjutkan belajar di Pesantren Cireungas, Cimelati Sukabumi. Pesantren ini terkenal sekali terutama pada masa kepemimpinan Ajengan Aceng Mumu yang ahli hikmah dan silat. Dari Pesatren inilah Abah Anom banyak memperoleh pengalaman dalam banyak hal, termasuk bagaimana mengelola dan memimpin sebuah pesantren. Beliau telah meguasai ilmu-ilmu agama Islam. Oleh karena itu, pantas jika beliau telah dicoba dalam usia muda untuk menjadi Wakil Talqin Abah Sepuh. Percobaan ini nampaknya juga menjadi ancang-ancang bagi persiapan memperoleh pengetahuan dan pengalaman keagaman di masa mendatang. Kegemarannya bermain silat dan kedalaman rasa keagamaannya diperdalam lagi di Pesantren Citengah, Panjalu, yang dipimpin oleh H. Junaedi yang terkenal sebagai ahli alat, jago silat, dan ahli hikmah. Ketika Abah Sepuh Wafat, pada tahun 1956, Abah Anom harus mandiri sepenuhnya dalam memimpin pesantren. Dengan rasa ikhlas dan penuh ketauladan, Abah Anom gigih menyebarkan ajaran Islam. Pondok Pesantren Suryalaya, ddngan kepemimpinan Abah Anom, tampil sebagai pelopor pembangunan perekonomian rakyat melalui pembangunan irigasi untuk meningkatkan pertanian, membuat kincir air untuk pembangkit tenaga listrik, dan lain-lain. Dalam perjalanannya, Pondok Pesantren Suryalaya tetap konsisten kepada Tanbih, wasiat Abah Sepuh yang diantara isinya adalah taat kepada perintah agama dan negara. Maka Pondok Pesantren Suryalaya tetap mendukung pemerintahan yang sah dan selalu berada di belakangnya. PENERUS/PENGGANTI ABAH ANOM Siapakah pengganti/penerus Abah Anom sebagai pengasuh pesantren dan mursyid tariqat thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah? Sampai tulisan ini dibuat masih belum jelas. Namun, kemungkinan besar adalah salah satu dari dua tokoh di bawah ini, yaitu 1. KH Noor Anom Mubarok yang merupakan adik kandung almarhum Abah Anom 2. KH Zaenal Abidin Anwar, putra dari Kakak kandung Almarhum Abah Anom. ======== Courtesy dan berbagai sumber TASIKMALAYA - Namanya identik dengan Pondok Inabah Suryalaya di Tasikmalaya, Jawa Barat. Pondok ini terkenal karena berhasil mengobati para pencandu narkoba dengan nilai-nilai hakiki agama Islam. Tak heran, para petinggi negeri ini, seperti Soeharto, Megawai, Jusuf Kalla, dan SBY pernah bersilaturahim untuk menemui tokoh yang pernah ikut memperjuangkan kemerdekaan dan menumpas gerombolan DI/TII bersama prajurit TNI A Shobibulwafa Tajul Arifin atau yang akrab disapa Abah Anom lahir pada 1 Januari 1915 di Kampung Godebah, Desa Tanjungkerta, Kecamatan Pegeurageung, Tasikmalaya. Ia merupakan putra kelima pendiri Pondok Pesantren Suryalaya, Syekh Abdullah bin Nur Muhammad atau Abah Sepuh, dan istrinya Hj Juhriyah. Ponpes Suryalaya dikenal sebagai pesantren tasawuf yang khusus mengajarkan Thariqat Qadiriyyah Naqsabandiyah TQN. Ia memasuki bangku sekolah dasar Vervooleg school di Ciamis pada usia delapan tahun. Lima tahun kemudian, ia melanjutkan ke madrasah tsanawiyah di kota yang sama. Lulus dari tsanawiyah, ia mendalami ilmu agama Islam secara lebih khusus di berbagai pesantren. Tak heran, jika ia keluar-masuk banyak pesantren di sekitar Jawa Barat. Ilmu-ilmu Islam secara khusus mulai dipelajari Abah Anom pada 1930. Ia berguru dengan berpindah-pindah pondok pesantren di sekitar Jawa Barat. Ilmu fikih ia pelajari dari seorang kiai di Pesantren Cicariang, Cianjur. Ilmu nahwu, shorof, dan balaghah ia pelajari di Pesantren Jambudipa, Cianjur. Dari Pesantren Jambudipa, Abah Anom melanjutkan perantauannya dalam menimba ilmu ke Pesantren Gentur asuhan Ajengan Syatibi. Pesantren yang disebut terakhir juga berada di Cianjur. Pada 1937, Abah Anom nyantri di Pesantren Cireungas, Cimelati, Sukabumi. Di pesantren inilah, Abah Anom mempelajari berbagai hal tentang manajerial dan kepemimpinan, termasuk pengelolaan pesantren. Pendidikan Abah Anom tidak berhenti di sini. Kali ini, giliran Pesantren Citengah, Panjalu, disambanginya. Di pesantren pimpinan H Junaedi itu, ia memperdalam ilmu agama dan ilmu berikutnya 1938, Abah Anom menunaikan ibadah haji. Seperti ulama Indonesia lainnya, ia pun tak hanya berhaji selama di Tanah Suci, tapi juga menimba ilmu. Di sana, ia memperdalam ilmu tasawuf dan tarekat selama tujuh bulan pada Syekh H Romli asal Garut yang bermukim di Jabal Gubeys, masa berikutnya, Abah Sepuh memerintahkan Abah Anom untuk melaksanakan riyadoh dan ziarah ke makam para wali. Tak sekadar berziarah, perintah ini juga dimaksudkan agar Abah Anom menimba ilmu di sejumlah pesantren di luar Jawa Barat. Melaksanakan perintah itu, Abah Anom berguru di Pesantren Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah, juga di Pesantren Bangkalan, Madura. Kali ini Abah Anom tak sendirian, tetapi ditemani kakak kandungnya, HA Dahlan, dan wakil Abah Sepuh, KH Pakih dari Talaga, menuntut ilmu menyebabkan Abah Anom menguasai berbagai macam ilmu keislaman pada usia relatif muda. Didukung dengan ketertarikannya pada dunia pesantren, mendorong sang ayah untuk mengajarinya zikir TQN. Karenanya, dalam usia relatif muda, ia telah menjadi wakil talkin ayahnya. Dan bisa jadi sejak itu pula, ia dikenal sebagai Abah Anom. Ia resmi menjadi mursyid pembimbing TQN di Pesantren Suryalaya sejak lari ke gunungMengenai eksistensi tasawuf dalam Islam, Abah Anom berpendapat, “Tasawuf tidak hanya produk asli Islam, tapi ia telah berhasil mengembalikan umat Islam kepada keaslian agamanya dalam kurun-kurun tertentu.’’Semasa hidupnya, Abah Anom dikenal luas sebagai ulama yang memiliki pemikiran tasawuf berbeda. Tasawuf yang dipahami Abah Anom bukanlah tasawuf yang cenderung mengabaikan syariah karena mengutamakan zauq rasa. Menurutnya, sufi dan pengamal tarekat tidak boleh meninggalkan ilmu syariah atau ilmu fikih. Sebab, ilmu syariah inilah yang nantinya mengantarkan seorang sufi mencapai derajat banyak orang menganggap bahwa seorang sufi cenderung menyendiri dan manjauhi dunia ramai, tak demikian halnya dengan Abah Anom. Ia bukanlah sosok sufi yang lari ke hutan-hutan dan gunung- gunung. Sebaliknya, ia justru akrab dengan berbagai medan kehidupan, mulai dari pertanian sampai 1950-1960-an, ketika kondisi perekonomian rakyat amat mengkhawatirkan, Abah Anom turun sebagai pelopor pemberdayaan ekonomi umat. Ia aktif membangun irigasi untuk mengatur pertanian, juga pembangunan kincir angin untuk pembangkit tenaga juga membuat semacam program swasembada beras di kalangan masyarakat Jawa Barat untuk meng antisipasi krisis pangan. Aktivitas ini menarik perhatian Menteri Kesejahteraan Rakyat waktu itu, Suprayogi, dan Jenderal AH Nasution yang kemudian berkunjung dan meninjau kegiatan itu di Pesantren pada masa-masa per juangan kemerdekaan, Abah Anom pun mengambil peran aktif. Ia bersama Brigjen Akil bahu-membahu memulihkan keamanan dan keter tiban di wilayahnya. Pengalaman keluar-masuk penjara pun menjadi perkara biasa bagi Abah Anom. Kemudian, ketika pemberontakan PKI meletus 1965, ia bersama para san trinya melakukan perlawanan bersenjata. sumber Pusat Data Republika Tasikmalaya Kabar duka datang dari Pesantren Suryalaya, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Pemimpinnya, Shohibulwafa Tajul Arifin alias Abah Anom, yang berusia 96 tahun, menghadap Sang Khalik. "INNALILLAAHI WA INNA ILAIHI ROOJI’UUN. Telah Berpulang ke Rahmatullah Hadrotu Syaikh KH. A. Shohibulwafa Tajul Arifin , pada hari Senin, 5 September 2011 / 6 Syawal 1432 H pukul di Rumah Sakit TMC Tasikmalaya," seperti yang tertulis di Senin 5/9. Abah Anom meninggal sekitar pukul WIB saat perjalanan menuju rumah sakit TMC Kota Tasikmalaya. Customer Service Rumah Sakit TMC, Feri mengatakan Abah Anom setibanya di rumah sakit langsung dilakukan penanganan medis namun sudah dalam keadaan meninggal dunia. Menurutnya, Abah Anom sudah meninggal di perjalanan, dan sekarang sudah kembali ke rumah duka di Pesantren Suryalaya. "Sekarang sudah dipulangkan kembali ke rumahnya," kata Feri saat dihubungi melalui telepon. Sebagian orang mengenal Pesantren Suralaya sebagai pesantren untuk para remaja nakal dan kecanduan narkoba. Metode yang digunakan untuk penyembuhan adalah melalui ibadah sesuai kerangka Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah dan Hydrotheraphy. Semua formulanya dirancang sendiri oleh Abah Anom. Berdasarkan website, Abah Anom dilahirkan di Suryalaya tanggal 1 Januari 1915. Ia merupakan putra kelima Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad, pendiri Pondok Pesantren Suryalaya, dari ibu yang bernama Hj Juhriyah. Ketika Abah Sepuh Wafat, pada 1956, Abah Anom harus mandiri sepenuhnya dalam memimpin pesantren. Pondok Pesantren Suryalaya, dengan kepemimpinan Abah Anom, tampil sebagai pelopor pembangunan perekonomian rakyat melalui pembangunan irigasi untuk meningkatkan pertanian, membuat kincir air untuk pembangkit tenaga listrik, dan lain-lain. Dalam perjalanannya, Pondok Pesantren Suryalaya tetap konsisten kepada Tanbih, wasiat Abah Sepuh yang diantara isinya adalah taat kepada perintah agama dan negara. Maka Pondok Pesantren Suryalaya tetap mendukung pemerintahan yang sah dan selalu berada di belakangnya. Abah Anom juga sangat konsisten terhadap perkembangan dan kebutuhan masyarakat, di samping melestarikan dan menyebarkan ajaran agama Islam melalui metode Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah. Sejak 1961, didirikan Yayasan Serba Bakti dengan berbagai lembaga di dalamnya termasuk pendidikan formal mulai TK, SMP Islam, SMU, SMK, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, Madrasah Aliyah kegamaan, Perguruan Tinggi IAILM dan Sekolah Tinggi Ekonomi Latifah Mubarokiyah serta Pondok Remaja Inabah.ANT/MEL* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

pengganti abah anom suryalaya